Yogyakarta, 13 Maret 2026 — Peringatan Hari Jadi ke-271 Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menjadi momentum penting untuk merefleksikan nilai-nilai budaya yang membentuk identitas masyarakat Yogyakarta. Melalui Upacara Agung yang digelar di Stadion Mandala Krida, Jumat (13/03), masyarakat diajak untuk menengok kembali perjalanan sejarah sekaligus meneguhkan langkah menuju masa depan yang selaras dengan falsafah budaya Jawa.
Upacara yang berlangsung khidmat ini dipimpin langsung oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Penghageng Upacara. Prosesi dimulai sejak pagi dengan masuknya delapan kelompok Bregada Upacara yang mewakili berbagai instansi di lingkungan Pemerintah Daerah DIY.

Nuansa tradisi terasa kuat sepanjang jalannya upacara. Seluruh rangkaian prosesi menggunakan Bahasa Jawa, mulai dari aba-aba yang disampaikan Manggala Upacara hingga narasi oleh Pranata Adicara. Para peserta upacara pun mengenakan busana Jawa gaya Mataram yang menambah kekhidmatan suasana.
Kehadiran Sri Sultan memasuki madya ning sasana upacara diiringi alunan gendhing Raja Manggala menjadi salah satu momen sakral dalam rangkaian peringatan tersebut.
Menelusuri Jejak Sejarah Berdirinya Yogyakarta
Hari Jadi DIY tidak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarah berdirinya Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat. Sejarah mencatat bahwa kelahiran Yogyakarta berawal dari perjuangan Pangeran Mangkubumi yang kemudian menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Setelah terjadinya Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, Pangeran Mangkubumi mendirikan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada 13 Maret 1755. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Peringatan tahunan ini tidak hanya menjadi pengingat akan peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai sarana memperkuat jati diri masyarakat yang berakar pada nilai budaya, kearifan lokal, serta semangat kebersamaan.
Pesan Sultan: Keselarasan Cipta, Rasa, dan Karsa
Dalam amanatnya, Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan pentingnya menjaga harmoni kehidupan melalui falsafah Hamemayu Hayuning Bawana, yakni upaya memelihara keseimbangan alam dan kehidupan manusia.

Menurut Sultan, kehidupan yang bermakna harus dilandasi oleh keselarasan antara cipta, rasa, dan karsa. Ketiga unsur tersebut menjadi landasan dalam membangun karakter manusia yang bijaksana serta berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Peringatan Hari Jadi ke-271 DIY tahun ini mengusung tema “Mulat Sarira, Jumangkah Jantraning Laku”, yang mengandung makna refleksi diri sebelum melangkah menuju masa depan.
Tema ini mengajak masyarakat Yogyakarta untuk menata kembali pikiran, perasaan, dan kehendak agar setiap langkah yang diambil mampu memberikan manfaat bagi kehidupan bersama.
Karakter Ksatria sebagai Nilai Luhur Budaya
Sultan juga mengingatkan pentingnya menjaga karakter ksatria yang menjadi bagian dari ajaran budaya Jawa. Nilai tersebut tercermin dalam empat prinsip utama:
Sawiji, yaitu fokus dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan tanggung jawab.
Greget, yakni semangat dan energi dalam berkarya.
Sengguh, percaya diri tanpa kehilangan kerendahan hati
Ora mingkuh, tidak mundur dalam membela kebenaran.
Nilai-nilai ini menjadi fondasi moral yang terus diwariskan dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta, termasuk dalam praktik seni dan kebudayaan yang berkembang di berbagai ruang budaya.
Seni sebagai Penutup yang Penuh Makna
Sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi DIY, unsur seni turut hadir memperkuat makna perayaan. Upacara ditutup dengan penampilan Tari Amurbo Cahyaningrat yang dipersembahkan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY.

Tarian tersebut menghadirkan simbol cahaya kepemimpinan dan harapan, menggambarkan semangat yang terus menyala dalam perjalanan Yogyakarta menjaga nilai-nilai keistimewaannya.
Bagi dunia seni dan budaya di Yogyakarta, peringatan Hari Jadi bukan hanya seremoni tahunan. Ia menjadi pengingat bahwa kebudayaan adalah napas kehidupan masyarakat, sekaligus ruang refleksi untuk terus merawat nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendiri Yogyakarta.

Sebagai ruang ekspresi seni dan budaya, Taman Budaya Yogyakarta memandang momentum ini sebagai pengingat penting bahwa seni bukan sekadar pertunjukan, melainkan medium untuk merawat ingatan kolektif, menyampaikan nilai-nilai kebijaksanaan, serta menjaga cahaya budaya agar tetap hidup dari generasi ke generasi.