Yogyakarta (22/04/2026) — Panggung seni tradisi di Yogyakarta kembali berdenyut kuat. Setelah menjalani renovasi, Gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) resmi membuka lembaran baru melalui gelaran Pentas Rebon 2026 pada Rabu Wage (22/04). Pementasan ini bukan sekadar agenda rutin 40 harian, melainkan momentum istimewa yang menandai kebangkitan ruang pertunjukan budaya Yogyakarta dengan wajah baru yang lebih megah dan nyaman.

Sebagai bagian dari rangkaian Rapat Koordinasi Forum Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia ke-25, Pentas Rebon kali ini menghadirkan nuansa nasional yang kuat. Kepala Taman Budaya dari berbagai provinsi mulai dari Jawa Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, hingga Maluku turut hadir, menjadikan panggung TBY sebagai ruang temu budaya Nusantara yang hangat dan penuh semangat kolaborasi.

Harmoni Tradisi dan Guyon Khas Yogyakarta

Suasana malam terasa semakin hidup ketika duo pembawa acara Novi Kalur dan Yanti Lemu tampil dengan banyolan khas Yogyakarta yang segar dan komunikatif. Kehadiran mereka sukses mencairkan suasana, menjembatani tamu kehormatan dan masyarakat umum dalam satu ruang apresiasi budaya yang akrab.

Di tengah atmosfer tersebut, Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati, menegaskan bahwa Pentas Rebon merupakan ruang ekspresi penting bagi para seniman Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus bentuk nyata pelestarian seni tradisi.

“Awalnya penuh perjuangan karena penonton seni tradisi biasanya didominasi usia di atas 50 tahun. Namun melalui pendekatan media sosial dan kemasan yang lebih kekinian, malam ini kita melihat sendiri bagaimana Gen Z dan mahasiswa memenuhi gedung ini,” ungkap Purwiati.

Menurutnya, keberhasilan menarik penonton muda membuktikan bahwa seni tradisi tetap relevan selama dikemas dengan strategi yang sesuai perkembangan zaman.

“Seni tradisi tidak akan mati selama kita mampu menghadirkannya dengan cara yang dekat dengan generasi masa kini. TBY berkomitmen menjadi laboratorium seni, tempat tradisi tetap hidup dalam konteks modern,” tegasnya.

Concert Hall Baru, Antusiasme Publik Membludak

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, turut mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat. Ia menyebut Pentas Rebon sebagai salah satu agenda budaya unggulan yang selalu dinanti.

“Begitu reservasi dibuka, tiket langsung sold out. Ini bukti bahwa masyarakat Yogyakarta memiliki kerinduan besar terhadap seni pertunjukan tradisi,” ujar Dian.

Dalam sambutannya, Dian juga menyoroti pembaruan fasilitas Concert Hall yang kini lebih nyaman.

“Gedung lama dengan kualitas baru. Sekarang sudah tidak panas dan pengap lagi,” candanya, disambut tawa penonton.

Pembukaan simbolis melalui pukulan keprak semakin meriah dengan kehadiran maestro komedi Jawa, Yati Pesek, yang memperkuat simbol regenerasi dan kesinambungan panggung seni tradisi Yogyakarta.

Tiga Lakon, Tiga Wajah Seni Tradisi

1. Kagama Teater Plus: Dandang Gula di Hutan Tambak Boyo

Pentas pembuka menampilkan perjalanan Mahesa Jenar di Hutan Tambak Boyo dalam atmosfer visual yang kuat. Tata cahaya bernuansa biru tua dan hijau lumut menciptakan lanskap mistis yang memukau, dipadukan dengan koreografi teatrikal yang emosional.

2. Ketoprak Rebon: Kalinyamat Gugat

Lakon ini menghadirkan kisah heroik Ratu Kalinyamat sebagai simbol keteguhan perempuan Nusantara. Dengan estetika pendapa keraton dan dramatika sejarah, pertunjukan ini sukses menghidupkan narasi perjuangan, keadilan, dan keberanian perempuan Jawa.

3. Dagelan Rebon: Bablas

Sebagai penutup, komedi sosial bertema kehidupan urban modern disajikan segar oleh Dagelan Rebon bersama kelompok Baskom binaan TBY. Lakon ini menjadi jembatan efektif antara tradisi komedi Jawa dengan isu kekinian yang dekat dengan generasi muda.

TBY, Rumah Tradisi yang Terus Bergerak

Keberhasilan Pentas Rebon 2026 menjadi penanda penting bahwa seni tradisi tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang. Dengan strategi digital, pendekatan kreatif, dan dukungan Dana Keistimewaan, Taman Budaya Yogyakarta berhasil menghidupkan kembali panggung budaya sebagai ruang yang inklusif bagi lintas generasi.

Pentas ini membuktikan bahwa ketoprak, teater tradisi, dan dagelan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas budaya yang mampu terus berdialog dengan masa depan. Taman Budaya Yogyakarta kini semakin menegaskan diri sebagai laboratorium seni masa depan tempat tradisi dirawat, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi baru dengan cara yang lebih relevan.