(Yogyakarta, 05/05/2026) — Taman Budaya Yogyakarta (TBY) resmi memperkenalkan wajah baru bagi festival teater tahunannya. Dalam konferensi pers di Ruang Seminar TBY, Selasa (05/05), acara yang dulunya dikenal sebagai “Parade Teater Linimasa” kini bertransformasi menjadi YUTFest (Yogyakarta Urban Teater Festival). Acara ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari penuh, mulai 6 hingga 8 Mei 2026. 

Pemilihan nama YUTFest bertujuan agar festival ini terasa lebih dekat dengan jiwa penonton masa kini. Dengan semangat baru yang lebih segar, festival ini ingin menyambut antusiasme anak muda dan generasi Z yang belakangan semakin menggandrungi seni pertunjukan panggung. 

Dalam konferensi pers, Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati, menjelaskan perubahan nama menjadi YUTFest bukan sekadar gaya-gayaan, melainkan bentuk adaptasi terhadap sistem dukungan dana baru, yaitu DAK (Dana Alokasi Khusus) nonfisik yang kini menopang penuh kegiatan ini.

“Kenapa berganti nama jadi YUTFest? Karena mulai tahun ini, kami didukung oleh Dana Alokasi Khusus yang memang sudah kami persiapkan sejak 2023 lalu,” jelas Purwiati.

Terlepas dari perubahan administratif tersebut, Purwiati menyoroti hal yang lebih esensial, yakni energi penonton yang kian meningkat. Ia menyadari bahwa kursi-kursi teater kini mulai penuh dengan wajah-wajah baru dari kalangan anak muda.

“Cara penonton sekarang mengapresiasi seni itu luar biasa. Terutama anak muda dan Gen Z, mereka sepertinya ketagihan untuk datang dan menyaksikan langsung pertunjukan di panggung,” ungkap Purwiati.

Antusiasme ini bukan sekadar perasaan. Beliau mengenang momen di acara sebelumnya saat sistem tiket dibuka sebanyak 1.100 kursi langsung ludes dipesan secara daring hanya dalam waktu dua jam. 

Ely, perwakilan panitia, menjelaskan bahwa antusiasme pegiat teater tahun ini meningkat tajam. Hal ini terlihat dari masuknya 25 proposal pementasan selama masa open call. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana penampil langsung ditunjuk, tahun ini panitia menerapkan proses kurasi yang lebih ketat dan berlapis.

“Tahun ini ada 25 proposal yang masuk. Jika dulu langsung ditetapkan enam penampil, sekarang kami mencoba mekanisme baru. Sepuluh kelompok kami umumkan sebagai nominasi, lalu mereka harus melewati tahap presentasi secara daring sebelum akhirnya dipilih menjadi enam terbaik,” jelas Ely mengenai alur seleksi tersebut.

Selain soal teknis, Ely juga memaparkan filosofi di balik nama Urban Teater Festival. Menurutnya, nama tersebut merupakan simbol gaya berekspresi para seniman teater Yogyakarta dalam merespons dinamika sosial yang terjadi di kondisi geografis DIY mereka.

Senada dengan hal tersebut, Dr. Koes Yuliadi memandang YUTFest bukan sekadar ajang unjuk kebolehan tahunan. Ia menilai festival ini sebagai sebuah ruang transisional yang krusial bagi kelompok-kelompok teater yang tumbuh di berbagai sudut daerah.

“Kami berharap di ruang ini, Taman Budaya sebagai ruang transisional, mereka menemukan bentuk baru atau memantapkan untuk kemudian loncat ke nasional atau mampir ke forum-forum lain dan mungkin dunia,” ungkap Koes Yuliadi. 

Lebih lanjut, ia berharap festival ini menjadi jembatan bagi para seniman muda Yogyakarta untuk tidak hanya membaca kota mereka, tetapi juga memperkenalkan wajah budaya yang relevan kepada dunia luar. 

Salah satu penampil, Judha Jiwangga, sutradara kelompok teater Seriboe Jendela, membocorkan bahwa mereka akan membawakan gaya musikal eksploratif dengan sentuhan musik salsa, sebuah warna baru yang jarang ditemui di panggung teater Yogyakarta. Karya bertajuk Belajar Membaca ini diangkat dari riset literasi Judha di Papua dan Kalimantan pada 2024.

“Kami ingin menawarkan wajah baru teater musikal khas Jogja. Saya merasa miris melihat kenyataan bahwa banyak anak kita baru sekadar bisa membaca, tapi belum benar-benar paham maknanya,” kata Judha.

Ia juga mengapresiasi keberanian YUTFest 2026 yang memberikan panggung besar bagi teater kampus. Bagi Judha, sorotan pada teater pendidikan ini membuat skena seni di Jogja menjadi jauh lebih kaya dan beragam. 

Melalui YUTFest, TBY berkomitmen untuk terus membuka diri terhadap inovasi. Festival ini dirancang sebagai laboratorium kreatif bagi seniman muda Yogyakarta untuk bebas bereksperimen, mencari titik temu unik antara kekayaan tradisi dengan gaya kontemporer, demi menjaga seni pertunjukan tetap relevan di hati masyarakat.