(Yogyakarta, 24/07/2026) — Festival Dalang Anak dan Remaja DIY 2026 resmi ditutup pada Jumat (24/7) di Gedung Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Selama empat hari penyelenggaraan, ajang yang digelar oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta ini menjadi panggung bagi lahirnya talenta-talenta muda dalam seni pedalangan sekaligus mempertegas komitmen DIY dalam menjaga keberlanjutan tradisi wayang di tengah perkembangan zaman.
Pesan Pelestarian dan Apresiasi untuk Seluruh Peserta
Dalam acara penutupan, Sekretaris Dinas Kebudayaan DIY, Drs. Budi Husada yang hadir mewakili Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., menegaskan bahwa seluruh peserta yang tampil di tingkat provinsi merupakan pemenang sejati. “Sebetulnya, semua peserta di sini adalah pemenang. Kalian adalah generasi muda penerus budaya bangsa,” ujar Budi.

Ia menambahkan bahwa dewan juri memiliki tugas yang sangat berat karena seluruh kontingen merupakan utusan terbaik dari tiap kabupaten dan kota. Penentuan juara dilakukan semata-mata untuk memilih satu wakil tunggal yang paling siap membawa nama DIY ke tingkat nasional.
“Karena kami harus memilih satu yang terbaik dari yang terbaik untuk mewakili kabupaten/kota, mau tidak mau tim juri bekerja sangat keras untuk menentukan siapa yang dianggap paling siap membawa nama DIY,” kata Budi.
Lebih lanjut, Budi juga menyampaikan pesan Kepala Dinas tentang pentingnya menjaga konsistensi agenda ini sebagai upaya pelestarian seni wayang sebagai warisan budaya dunia (world heritage).
Puncak acara kemudian dilanjutkan dengan pengumuman para penyaji terbaik yang telah berjuang menampilkan pertunjukan secara maksimal.
Daftar Para Pemenang Festival Dalang Anak dan Remaja DIY 2026
Penilaian pada ajang tahun ini berfokus pada Penguasaan Unsur Pakeliran, di mana para peserta dinilai berdasarkan keseimbangan antara sabet (kemampuan memainkan wayang), catur (vokal dan narasi tokoh), sanggit (penyusunan dan keutuhan alur cerita), iringan (keselarasan dengan musik karawitan), serta keseluruhan penyajian.

Berdasarkan hasil akumulasi penilaian jajaran dewan juri, berikut adalah deretan dalang anak dan remaja yang berhasil menyabet predikat Penyaji Terbaik pada kategori Wayang Kulit Purwa:
Kategori Dalang Anak (Wayang Kulit Purwa)
Juara I: Risang Aditya Pratama — Kabupaten Sleman (Nilai: 4.105)
Juara II: Simon Abimanyu — Kota Yogyakarta (Nilai: 4.025)
Juara III: R. Nurwaskita Cahyo Darmawan — Kabupaten Bantul (Nilai: 3.880)
Juara IV: Latif Lestyo Wicoro — Kabupaten Kulon Progo (Nilai: 3.640)
Juara V: Yusaphat Filius Nararya Widyasto — Kabupaten Gunungkidul (Nilai: 3.625)
Kategori Dalang Remaja (Wayang Kulit Purwa)
Juara I: Djanggan Purbo Jati — Kabupaten Kulon Progo (Nilai: 4.030)
Juara II: Davin Mahatma — Kabupaten Sleman (Nilai: 3.975)
Juara III: M. Ali Nurdin Al Quraisy — Kabupaten Bantul (Nilai: 3.685)
Juara IV: Aditya Nicolasberto Rosalino — Kabupaten Gunungkidul (Nilai: 3.630)
Juara V: Keefe Juris Privian — Kota Yogyakarta (Nilai: 3.525)
Kemudian, untuk kategori Wayang Golek Menak, deretan dalang anak dan remaja yang berhasil mengumpulkan akumulasi nilai tertinggi dan menyabet gelar kejuaraan adalah sebagai berikut:
Kategori Dalang Anak (Wayang Golek Menak)
Juara I: Kanajalu Rahagi Sakha — Kabupaten Bantul (Nilai: 4.285)
Juara II: Ivo Lanta Sang Kesawa — Kota Yogyakarta (Nilai: 4.170)
Juara III: R. Bagaskara Manjer Kawuryan — Kabupaten Sleman (Nilai: 3.805)
Juara IV: Tito Zavier Bryantara — Kabupaten Kulon Progo (Nilai: 3.665)
Juara V: Tanoyo Jalunindyo — Kabupaten Gunungkidul (Nilai: 3.645)
Kategori Dalang Remaja (Wayang Golek Menak)
Juara I: Daneswara Satya Swandaru — Kabupaten Gunungkidul (Nilai: 4.105)
Juara II: Rafael Windrasto Satrio Aji — Kota Yogyakarta (Nilai: 3.990)
Juara III: Satria Mahawira Purnomo Aji — Kabupaten Bantul (Nilai: 3.830)
Juara IV: Panggah Nowo Wibatsu — Kabupaten Sleman (Nilai: 3.765)
Juara V: Arif Tegar Pratama — Kabupaten Kulon Progo (Nilai: 3.390)
Atas pencapaian tersebut, para pemenang berhak menerima plakat, piagam penghargaan, dan uang pembinaan. Penghargaan diserahkan secara simbolis oleh jajaran pejabat Dinas Kebudayaan DIY, di antaranya Drs. Budi Husada, Kepala Seksi PPWTB, Joy Jatmiko Abdi, S.S., M.A., dan Ketua PEPADI DIY, Ki Edi Suwondo.
Adaptasi Seni Tradisi di Era Gen Z
Melihat antusiasme dan tingginya kualitas penampilan para peserta muda tahun ini, Ki Edi Suwondo membagikan pandangannya mengenai tantangan serta masa depan seni pedalangan di tangan generasi muda.
“Terutama pada generasi Gen Z ini, dinamika sosial sudah banyak bergeser atau mengalami perubahan yang sangat signifikan. Jadi, sangat bertentangan dengan dunia pedalangan yang berlatar belakang tradisional atau konvensional. Tetapi dunia pedalangan itu tetap selalu beradaptasi pada eranya,” tutur Edi.
Meski demikian, ia meyakini bahwa seni tradisi tidak pernah mati selama para pelakunya mau membuka diri terhadap perkembangan zaman.
Rasa Syukur dan Kebahagiaan
Kebanggaan dan rasa syukur mendalam juga terpancar dari Djanggan Purbo Djati, peraih Juara 1 kategori Wayang Purwa Remaja asal Kontingen Kabupaten Kulon Progo. Bagi Djanggan, raihan tertinggi di panggung provinsi ini merupakan buah manis dari proses panjang dan kerja keras yang dilaluinya selama masa latihan.
“Tentu perasaan saya sangat bahagia dan bersyukur sekali. Semua proses dan perjuangan selama ini akhirnya membuahkan hasil yang sangat maksimal,” ujar Djanggan.
Senada dengan Djanggan, rasa bangga juga diungkapkan oleh Daneswara Satya Swandaru, peraih Juara 1 kategori Wayang Golek Menak Remaja dari Kontingen Kabupaten Gunungkidul. Selain bersyukur atas capaian yang diraih, Daneswara merasa bangga dapat mengambil peran aktif dalam menjaga keberadaan seni wayang golek menak di kalangan generasi muda.

Festival Dalang Anak dan Remaja DIY 2026 sukses membuktikan bahwa Yogyakarta tidak pernah kehabisan regenerasi seniman muda yang mencintai budayanya. Ketika layar kelir digulung dan kotak wayang ditutup, riuh semangat para dalang anak dan remaja ini akan terus bergema. Lebih dari sekadar ajang kompetisi, festival ini menjadi ruang semai yang mempertemukan dedikasi, kerja keras, dan kecintaan mendalam pada akar tradisi. Kini, langkah para juara menuju panggung nasional di Jakarta membawa harapan baru bahwa di tangan generasi muda, kebudayaan Yogyakarta akan terus hidup, beradaptasi, dan melintasi zaman.