(Yogyakarta, 30/07/2026) — Proses penjurian ajang kompetisi fotografi Rana Budaya #4 dengan tema #FYP For Your People resmi dirampungkan hari Kamis (30/7) di Ruang Rapat, Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Setelah melalui kurasi ketat dan diskusi yang mendalam, dewan juri menetapkan 30 karya terbaik yang masuk dalam jajaran top 30 nominasi, sekaligus menentukan peraih Juara 1, 2, 3, serta Juara Harapan 1 dan 2. 

Tahap penjurian tahun ini menghadirkan jajaran juri yang berkompeten di bidang fotografi dan seni visual, yaitu Dwi Oblo, Aralee Niken, dan Kasan Kurdi. Ketiganya melakukan penilaian secara komprehensif terhadap lebih dari 200 karya yang masuk dari berbagai daerah, mulai dari Sabang hingga Merauke.

Rangkaian penilaian menyoroti berbagai aspek mendasar, mulai dari kualitas teknis fotografi, komposisi visual, orisinalitas, hingga kesesuaian dengan tema utama dan daya sampaikan narasi budaya yang diusung.

Evaluasi Dewan Juri: Tantangan dalam Kategori Foto Seri 

Salah satu sorotan utama dalam penjurian tahun ini terletak pada kategori foto seri. Dwi Oblo menekankan pentingnya kelengkapan elemen visual dan variasi penceritaan (storytelling). Banyak karya tereliminasi bukan karena kualitas gambarnya buruk, melainkan karena tidak memenuhi kaidah keragaman sudut pandang (perspektif).

“Penilaian kami pada dasarnya disesuaikan dengan kualifikasi penyuntingan. Pada kategori seri, ada catatan menarik, ada peserta yang mengirimkan foto seri, tetapi secara visual cenderung serupa. Foto-foto tersebut akhirnya tidak kami loloskan karena sebuah foto seri idealnya harus memiliki kelengkapan penceritaan mulai dari overview, portrait, hingga detail,” ujar Dwi. 

Melengkapi pandangan tersebut, Kasan Kurdi menjelaskan bahwa kategori foto seri sebenarnya dihadirkan guna membangun pustaka visual yang lebih kaya dan mendalam dibandingkan dengan foto tunggal (single photo). Sayangnya, masih banyak peserta yang belum sepenuhnya memahami esensi dari penceritaan foto seri. 

“Banyak peserta yang gugur karena konsep serinya kurang tepat. Banyak foto yang sebenarnya mirip atau hanya pengulangan cerita dari sudut pandang yang sama, lalu dikirimkan lebih dari satu foto untuk memenuhi syarat 3 sampai 5 karya. Padahal jika dilihat dari judul, lokasi, dan gagasannya, ide-ide mereka sangat menarik,” kata Kasan.

Lebih lanjut, Aralee Niken memaparkan pentingnya peran teknologi visual di era modern yang serba berbasis AI (Artificial Intelligence). Menurutnya, penggunaan alat seperti Google Lens sangat berguna untuk menjaga transparansi dan orisinalitas karya fotografi. Melalui fitur pemindaian gambar ini, pengguna dapat dengan mudah melacak jejak digital suatu foto guna menentukan keasliannya serta memastikan apakah gambar tersebut pernah dipublikasikan di platform lain sebelumnya. 

Sinergi Bersama Kurator dan Persiapan Teknis Pameran 

Setelah proses penjurian rampung pada pagi hari, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama kurator pameran. Pertemuan ini menjadi momen penting bagi dewan juri untuk menyampaikan bahwa karya-karya tersebut dinilai selaras dengan tema, yakni menampilkan potret lingkungan sekitar.

Dalam diskusi tersebut, Nia selaku kurator pameran menjelaskan bagaimana proses kurasi karya agar tetap selaras dengan tema. “Sistem kurasinya tentu berangkat dari tema For Your People. Kami mencari karya-karya yang menceritakan tentang apa yang terjadi di lingkungan sekitar dan tentang orang-orang di sekeliling mereka,” papar Nia.

 

Senada dengan Nia, Rangga Purbaya selaku sesama kurator pameran menjelaskan bahwa sistem kurasi berfokus pada pemilihan karya yang benar-benar relevan dengan tema kehidupan sehari-hari dari total karya yang masuk ke meja kurasi. 

“Proses kurasi ini dilakukan untuk memilih karya tunggal maupun seri yang relevan dengan tema kehidupan sehari-hari. Banyak peserta yang justru mengirimkan objek yang terasa jauh dari kehidupan mereka. Padahal, yang sebenarnya diharapkan adalah kepekaan dan sensibilitas fotografer dalam menangkap serta merekam aktivitas maupun kebiasaan orang-orang terdekat di sekitar mereka,” ujar Rangga. 

Selain penyampaian hasil penjurian, agenda diskusi tersebut juga berfokus pada pembahasan teknis persiapan pameran, salah satunya adalah penentuan spesifikasi dan ukuran kertas cetak karya. Penyesuaian materi cetak ini dinilai krusial untuk memastikan bahwa setiap narasi visual, detail warna, dan estetika dari karya-karya terpilih dapat tersaji secara optimal saat dipamerkan kepada publik.

Harapan dan Undangan Menikmati Karya Nusantara 

Melalui penyajian visual yang matang, pameran ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman yang berkesan bagi publik. Aralee Niken menaruh harapan besar agar pesan yang diusung dalam pameran ini dapat sampai dan dirasakan langsung oleh para penikmat seni. 

“Harapannya, Rana Budaya #4 bisa menjadi satu oase yang menyegarkan di tengah hiruk-pikuk hari-hari yang padat ini. Pameran ini membuka perspektif kita bahwa hidup itu luas lewat ragam cerita visual yang dihadirkan,” tutur Aralee.

Ia juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak melewatkan pameran tahunan ini. 

Selesainya proses kurasi ketat ini menandai langkah awal dari hadirnya sebuah ruang apresiasi budaya yang kaya makna. Kerja keras dewan juri dan tim kurator diharapkan mampu menyajikan pameran yang tidak hanya bernilai estetika tinggi dan edukatif, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa fotografi mampu mengabadikan serta merayakan keberagaman cerita manusia Nusantara. Rana Budaya #4 bukan sekadar ajang unjuk bakat, melainkan perayaan visual yang sayang untuk dilewatkan. Jadi, catat tanggalnya dan bersiaplah menjadi saksi keindahan kisah-kisah Nusantara di Taman Budaya Yogyakarta!