Gelar Karya Maestro: Napak Tilas Nyi Tjondrolukito: Maestro Sinden Tak Biasa

Gelar Karya Maestro
Napak Tilas Nyi Tjondrolukito: Maestro Sinden Tak Biasa

 

 

Pada tahun 2018 ini, Taman Budaya Yogyakarta kembali menyelenggarakan Gelar Karya Maestro. Gelar Karya Maestro dilaksanakan pertama kali pada tahun 2009 di Taman Budaya Yogyakarta untuk mengenang para maestro yang mempunyai karya monumental dan menawan. Setiap tahun, berbagai pertunjukan dan pameran lintas seni mulai dipergelarkan untuk terus melestarikan dan mengenang karya-karya besar para maestro. Tahun ini, Taman Budaya Yogyakarta mengangkat sosok Nyi Tjondrolukito sebagai tokoh maestro di bidang karawitan, khususnya profesinya sebagai sinden. Alasan Taman Budaya Yogyakarta mengangkat sosok beliau karena Nyi Tjondrolukito adalah tokoh sinden yang mempunyai ciri khas yang unik, teknik yang kuat, namun di sisi lain juga menimbulkan kontroversial.

Kontroversial tersebut muncul karena banyak seniman yang menganggap bahwa Nyi Tjondrolukito menyalahi aturan-aturan baku yang menjadi patokan dunia sinden Yogyakarta. Hal tersebut tidak membuat Nyi Tjondrolukito berhenti berkarya, justru dia mempunyai keyakinan bahwa teknik tersebut menarik dan akan diwariskan dan dilestarikan. Keyakinan tersebut terbukti dari diskusi yang dilaksanakan oleh Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 26 September 2018 ketika membahas napak tilas Nyi Tjondrolukito. Dra. Sutrisni, M.Sn., menceritakan bahwa sosok Nyi Tjondrolukito dianggap sebagai sinden legendaris yang teknik vokal dan karya-karyanya selalu disorot dan dibahas dalam dunia akademis.

Selain itu, lebih lanjut menurut Dra. Sutrisni, M.Sn, teknik yang digunakan Nyi Tjondrolukito memang cukup sulit karena memulai nada dari atas dan menggabungkan isen-isen dengan srambahan. Cengkok yang digunakan pun sangat unik. Jika diperhatikan dengan saksama, nuansa dalam cengkok Nyi Tjondrolukito terdengar cukup kemayu dan genit, namun tetap anggun dan dewasa. Salah satu kelebihan yang mungkin sulit ditirukan oleh sinden lain.

Gelar Karya Maestro ini akan dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 2018 pada pukul 19.30-22.00 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, tanpa tiket. Pergelaran ini akan menampilkan dua grup yang akan membawakan karya-karya Nyi Tjondrolukito. Terinspirasi dari Pangkur Segara Kidul, Omah Cangkem yang dipimpin oleh Pardiman Djoyonegoro  akan menyajikan karya dengan sesuatu yang berbeda. Berangkat dari Pangkur Segara Kidul, mencoba menggali makna, menata nada, mengharmonikan etika dan estetika dalam dunia anak-anak dan remaja. Selain itu, Bremara Laras akan menyajikan dua repertoar, antara lain: (1) Gending Winduaji, laras pelog patet kendhangan Sarayuda, dhawah ladrang Widuaji kalajengaken Ketawang Girisa. Gending ini merupakan gending klasik gaya Yogyakarta yang digarap bersama berdasarkan tafsir garap seniman yang ada pada saat ini namun tidak meninggalkan kaidah dan model garap yang sudah ada. Disajikannya gending ini sebagai bahan banding terhadap gending yang populer khas Tjondrolukitan; (2) Jineman Uler Kambang laras Slendro patet sanga dan Gending Kutut Manggung laras slendro patet manyura yang termasuk gending populer yang pernah dibawakan oleh almarhum Nyi Tjondrolukito semasa hidupnya. Gending ini tidak hanya populer di Daerah Istimewa Yogyakarta saja, tetapi juga sangat populer di daerah Jakarta.

Taman Budaya Yogyakarta berharap cengkok Nyi Tjondrolukito menjadi acuan para sinden generasi muda selanjutnya, yang kemudian dapat dikembangkan sesuai dengan individu masing-masing.